Jumat, 09 September 2022

Sehati Di Jogjakarta (Keraton Jogjakarta)

Jogjakarta kota pelajar dengan ukiran sejarah yang masih ada di setiap sudut kotanya. Berkunjung ke Jogja merupakan sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan, keramahan penduduknya menjadi salah satu faktor yang membuat pengunjung betah berlama-lama disana. kali ini, saya mencoba mewujudkan salah satu dari sekian banyak cita-cita yang belum terwujud selama berada di pulau Jawa... Yappsss berkunjung ke Jogja khususnya ke keraton Jogjakarta. Walaupun akses ke keraton ini cukup mudah namun tetap saja entah karena faktor apa, baru kali ini saya benar-benar bisa menginjakkan kaki disini. Lokasi keraton bisa diakses dari Malioboro dengan berjalan kaki,atau dengan naik becak. Tiket masuk sangat ramah kantong yaitu 8k per orang. Tiket dapat dibeli di sisi kanan pintu masuk. Perjalanan kemarin sangat menyenangkan, begitu masuk ternyata sedang ada pertunjukan wayang golek. Menurut informasi, ada pertunjukan berbeda tiap harinya.
Pertunjukan ini dapat disaksikan oleh setiap pengunjung, bahkan di sediakan kursi untuk pengunjung prioritas seperti ibu hamil dan lansia. Selesai dari pertunjukan kita masuk lebih dalam, terdapat banyak bangunan yg bergaya unik dan menarik khas jawa. Entah karena faktor apa, udara nya terasa lebih sejuk ketika kita berada dalam sini, mungkin karena banyak nya pepohonan yahh..
Museumnya sangat menarik, koleksi barang-barang nya pun sangat menarik. berbagai benda peninggalan jaman dulu di tampilkan dalam museum ini. Untuk belajar sejarah, tempat ini sangat bikin betah dan enggan untuk keluar. Oh iya, untuk berkeliling ke museum ada baiknya jika benar-benar ingin tau mengenai keraton, kita meminta untuk di dampingi oleh pemandu wisata yang memang ada disana. pemandu wisatanya sangat ramah, Juara 👍👍

Kamis, 27 Agustus 2020

Berkunjung ke rumah Ibu Fatmawati dan Bapak Soekarno Di Bengkulu

Jika sebelumnya saya ke daerah Jawa Tengah, maka sekarang saya berpindah ke Pulau Sumatra tepatnya di Kota Bengkulu. Banyak tempat wisata yang bisa kita kunjungi di Kota bengkulu baik wisata sejarahnya maupun wisata pantainya. Namun kali ini saya akan membagikan sedikit mengenai salah satu bangunan sejarah yang ada di Kota bengkulu yaitu Rumah Ibu Fatmawati Soekarno yang terletak di Jl. Fatmawati No. 10 Bengkulu dan Rumah Kediaman Bung Karno. kedua tempat ini tidak dapat dipisahkan dalam sejarah, Ibu Fatmawati berdasarkan sejarah lahir di Bengkulu pada tahun 1923 sementara Bapak Soekarno pernah berada di bengkulu selama kurang lebih 4 tahun (1938-1942). Jika kita berkunjung maka akan kurang rasanya jika tidak mengunjungi kedua tempat ini karena letaknya tidak terlalu jauh dan mudah diakses serta menyimpan cerita yang saling berhubungan. Perbedaan dapat kita temukan pada gaya kedua bangunan ini. Ketika masuk, Penjaga tidak secara aktif menjelaskan kepada kita isi dari bangunan tersebut, namun penjaga akan memberikan jawaban ketika kita bertanya. Tapi tidak usah takut akan bingung karena sebagian besar foto atau barang peninggalan mencantumkan cerita atau sejarahnya, sehingga kita bisa mengetahui dengan lebih jelas.
selain gambar-gambar diatas, masih banyak lagi area-area yang menyimpan sejarah yang wajib kita kunjungi.

Wisata Sejarah Di Monumen Palagan Ambarawa

Haiii.... hari ini saya mau membagikan sedikit dari cerita jalan-jalan. okayyy karena pandemi dan belum bisa banyak keluar kota, jadi saya ingin berbagi tentang perjalanan wisata ke salah satu tempat yang banyak menyimpan sejarah kemerdekaan Indonesia yaitu Monumen Palagan Ambarawa. saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang suka menyusuri jejak-jejak sejarah entah itu museum, bangunan-bangunan tua seperti candi dll.
Monumen Palagan Ambarawa tepatnya terletak di Jl. Mgr. Suguyoranoto Panjang, Kec Ambarawa, Semarang. Tempat ini wajib dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mengetahui sejarah pertempuran Palagan Ambarawa. Akses ke tempat ini cukup mudah dan bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Saat masuk kita diwajibkan untuk membayar tiket, namun tidak usah ragu, harga tiketnya sangat terjangkau. Pertama masuk kita akan langsung menemukan bangunan/ruangan tertulis museum Isdiman yang menyimpan alat-alat senjata yang digunakan oleh para pejuang, walaupun tidak sebanyak dimuseum lain. ini adalah beberapa foto yang diambil dari depan dan dalam museum
Setelah dari ruangan tersebut, kita bisa langsung menuju ke Monumen Palagan Ambarawa. Perasaan pertama wahhhh.... ini luar biasa, rasanya seperti saya kembali disuruh untuk mengingat kembali sejarah Pertempuran Palagan Ambarawa, untuk pencinta sejarah seperti saya, ini benar-benar luar biasa.
Jika didalam museum kita menemukan senjata-senjata maka di bagian luar banyak kendaraan-kendaraan bekas dari jaman dulu mulai dari Tank, Truk, gerbong kereta dan Pesawat hingga Meriam gunung buatan Swedia.
Tempat ini mungkin tidak terlalu besar tapi sejarah yang ada didalamnya sangatlah besar. Jangan pernah lupakan sejarah. Kita mungkin tak bisa lagi mengenal para pejuang secara langsung dan terperinci namun kenalilah perjuangannya melalui peninggalannya.

Rabu, 04 Maret 2015

ASKEP TEORI TB PARU


Proses keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu metode identifikasi masalah dan pemecahan masalah yang menggambarkan apa yang sebenannya dilakukan perawat. Model lima-langkah  yang diterima sebagai proses keperawatan adalah : pengkajian, diagnosa, perencanaan implementasi dan evaluasi.
1.      Pengkajian
Pada dasarnya, tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data objektif dan subjektif dari klien.Adapun data yang terkumpul mencakup informasi klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau budaya. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengkajian adalah sebagai berikut :
a.       Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosiokultural, dan spiritual yang bisa mempengaruhi status kesehatannya.
b.      Mengumpulkan semua infomasi yang bersangkutan dengan masa lalu dan saat ini, bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien, guna membuat suatu basis data yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat dan klien selama berinteraksi serta sumber yang lain.
c.       Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
d.      Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting, dan catatan kesehatan klien.
(Deswani, 2009)
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a.       Melakukan wawancara
b.      Riwayat kesehatan/keperawatan
c.       Pemeriksaan fisik
d.      Mengumpulkan data penunjang hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan diagnostik, serta catatan kesehatan (rekam medik)
(Deswani, 2009).
Menurut Doenges (2012), pengkajian pada kasus TB paru adalah sebagai berikut
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala :      Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada malam hari atau demam malam hari, menggigil dan/berkeringat, mimpi buruk.
Tanda :      Takikardia, takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut).
b.      Integritas ego
Gejala :      Adanya/faktor stres lama, masalah keuangan, rumah, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Tanda :     Menyangkal (khususnya selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah terangsang.


c.       Makanan/cairan
Gejala :    Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan berat badan.
Tanda :     Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.
d.      Nyeri/kenyamanan
Gejala :    Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda :     Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
e.       Pernapasan
Gejala :    Batuk produktif atau tak produktif, napas pendek, riwayat tuberkulosis/terpajan pada individu terinfeksi.
Tanda :     Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), perkusi pekak dan penurunan vermitus (cairan atau penebalan pleural), bunyi napas : menurun/tak ada, krekels tercatat di atas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels posttussic), karakteristik sputum: hijau/purulent, mukoid/kuning, atau bercak darah, deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
f.       Keamanan
Gejala :    Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker, tes HIV postif.
Tanda :     Demam rendah atau sakit panas akut.
g.      Interaksi sosial
Gejala :    Perasaan asolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
h.      Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :    Riwayat keluarga TB, ketidak mampuan umum/status kesehatan buruk, gagal untuk membaik/kambuhnya TB, tidak berpartisipasi dalam terapi.
Rencana pemulangan : memerlukan bantuan dalam terapi obat dan  perawatan diri serta pemeliharaan/perawatan rumah.
2.      Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif dan objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medis, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain (Deswani, 2009).
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doenges, 2012).
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Yang dimaksud dengan actual adalah masalah yang didapatkan pada saat dilakukan pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah kemungkinan yang akan timbul kemudian (NANDA, 2012).
Peraturan dalam menulis diagnosa keperawatan (Rusmiati, 2010) adalah sebagai berikut :
a.       Diagnosa aktual
Komponen diagnosa aktual terdiri dari tiga bagian yaitu:
PES (Problem + Etiologi + Tanda dan gejala) atau PRS (Problem + faktor yang berhubungan + tanda dan gejala)
Contoh :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang kurang berhubungan dengan intake yang tidak adekuat yang ditandai dengan klien mengatakan tidak nafsu makan, porsi yang disiapkan tidak habis.
b.      Diagnosa resiko
Komponen diagnosa resiko terdiri dari dua bagian yaitu:
PE (Problem + Etiologi) atau PR (Problem + Faktor yang berhubungan)
c.       Diagnosa kemungkinan
Komponen diagnosa kemungkinan terdiri dari dua bagian yaitu :
PE (Problem + Etiologi)
Contoh :
Kemungkinan konstipasi b/d bed rest.


d.      Diagnosa sindrom
Komponen diagnosa sindrom terdiri dari satu bagian yaitu :
P (problem)
Contoh :
Kurang perawatan diri : makan.
e.       Diagnosa sejahtera
Komponen diagnosa sindrom terdiri dari satu atau dua bagian yaitu :
P (probelm) atau PE (Problem + Etiologi)
Contoh :
Potensial terhadap peningkatan peran menjadi orang tua.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus Tuberculosis yaitu :
a.       Infeksi, resiko, (penyebaran/aktivitas ulang) berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, penurunan kerja silia/statis sekret.
b.      Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan, upaya batuk buruk.
c.       Kerusakan pertukaran gas, resiko tinggi berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar-kapiler.
d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan, sering batuk/produksi sputum; dispnea.
e.       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan.
3.      Rencana Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah panduan untik perilaku spesifik yang diharapkan dari klien atau tindakan yang harus dilakukan perawat.Intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang diharapkan (Deswani, 2009).
Dalam intervensi terdapat kriteria hasil. Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang digunakan dalam membuat kriteria hasil :
a.       Berorientasi pada klien
b.      Mempunyai makna tunggal
Setiap pernyataan kriteria hasil harus bersifat spesifik dan hanya memiliki satu makna.
c.       Dapat diukur
d.      Mempunyai batasan waktu
e.       Saling menguntungkan
f.       Realistis dan dapat dicapai
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari klien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat.Tindakan/intervensi keperawatan dipilih untuk membantu klien dalam mencapai hasil klien yang diharapkan dan tujuan pemulangan (Doenges, 2012).
a.       Infeksi, resiko, (penyebaran/aktivitas ulang) berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, penurunan kerja silia/statis sekret.
Tujuan :    
·         Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
·         Menunjukan teknik/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi
1)      Kaji patologi penyakit (aktif/fase tak aktif; diseminasi infeksi melalui bronkus untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah/sistem limfatik) dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa, menyanyi.
Rasional :  membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencagah pengaktifan berulang/komplikasi. Pemahaman bagaiman penyakit disebarkan dan kesadaran kemungkinan transmisi membantu pasien/orang terdekat untuk mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang lain.
2)      Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah, sahabat karib/teman.
Rasional :  orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya infeksi.
3)      Anjurkan pasien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah. Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat. Dorong untuk mengulangi demonstrasi.
Rasional :  perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyabaran infeksi.
4)      Awasi suhu sesuai indikasi
Rasional :        reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut.
5)      Tekankan pentingnya untuk tidak menghentikan terapi obat.
Rasional :  periode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas sedang, resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
b.      Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan, upaya batuk buruk.
Tujuan :
·         Mempertahankan jalan napas pasien
·         Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
Intervensi :
1)      Kaji fungsi pernapsan, bunti napas, kecepatan, irama dan kedalama dan penggunaan otot aksesor.
Rasional :    penurunan bunyi napas dapat menunjukan atelataksis, ronki, mengi menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan.
2)      Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif; catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Rasional :  pengeluaran sulit bila sekret tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkhial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
3)      Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam.
Rasional :  posisi membantu memaksimalkan ekspansi pauru dan menurunkan upaya pernapasan. Ventilasi maksimal membuka area ateletaksis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan napas besar untuk dikeluarkan.
4)      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi.
Rasional :  pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
5)      Kolaborasi : berikan obat-obatan sesuai indikasi.
Rasional :  agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan.
c.    Kerusakan pertukaran gas, resiko tinggi berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru, atelektasis, kerusakan membrane alveolar-kapiler.
Tujuan :
·         Melaporkan tak adanya/penurunan dispnea.
·         Bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi :
1)      Kaji dispnea, takipnea, tak normal/menurunnya bunyi napas, peningkatan upaya pernapsan, terbatasnya ekspansi dinding dada, dan kelemahan.
Rasional :     TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi pleura, dan fibrosis luas. Efek pernapasan dapat dari ringan sampai dispnea berat sampai distress pernapasan.
2)      Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran. Catat sianosis dan/atau perubahan pada warna kulit, termasuk membrane mukosa dan kuku.
Rasional :     akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan.
3)      Tunjukan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi, khusunya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim paru.
Rasional :  membuat tahan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/penyempitan jalan napas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan/menurunkan napas pendek.
4)      Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai dengan keperluan.
Rasional :     menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala.
5)      Kolaborasi : awasi seri GDA/nadi oksimetri.
Rasional :     penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program terapi.
d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan, sering batuk/produksi sputum; dispnea.
Tujuan :
·         Menunjukan berat badan meningkat mencapai tujuan.
·         Melakukan perubahan pola hidup untuk meningktkan berat badan yang tepat.
Intervensi
1)      Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan, intgritas mukosa oral, kempuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare.
Rasional :  berguna dalam menginditifikasi derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
2)      Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai/tidak disukai.
Rasional :  membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/kekuatan khusus. Pertimbangan kinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.
3)      Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik.
Rasional :  berguna dalam mengukur keeektifan nutrisi dan dukungan cairan.
4)      Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional :  membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
5)      Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien kecuali kontraindikasi.
Rasional :  membantu lingkungan sosial lebuh normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural.
6)      Kolaborasi : rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional :  memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
e.       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan.
Tujuan :
·         Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Intervensi
1)      Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar.
Rasional :  belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan tingkat pada tahapan individu.
2)      Idetifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat.
Rasional :  dapat menunjukan kemampuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yanag memerlukan evaluasi lanjut.
3)      Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat.
Rasional :  informasi tertulis menurunkan hambatan pasien utnuk mengingat sejumlah besar informasi. Pengulangan menguatkan belajar.
4)      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama. Kaji potensial interaksi dengan obat/substansi lain.
Rasional :  meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.



4.      Implementasi
Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Asmadi, 2008).
5.      Evaluasi
Evaluasi berfokus pada klien, baik itu individu ataupun kelompok. Proses evaluasi memerlukan beberapa ketrampilan, antara lain : kemapuan menetapkan rencana asuhan keperawatan, pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan, respon klien yang normal terhadap tindakan keperawatan, dan pengetahuan tentang, konsep keperawatan (Deswani, 2011).
Adapun tujuan melakukan pencatatan hasil evaluasi adalah sebagai berikut:
a.       Menilai pencapaian kriteria hasil dan tujuan.
b.      Mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi pencapaian tujuan.
c.       Membuat keputusan apakah rencana asuhan keperawatan diteruskan atau dihentikan.
d.      Melanjutkan, memodifikasi, atau mengakhiri rencana.




Evaluasi dibagi menjadi 2 jenis yaitu sebagai berikut :
a.       Evaluasi formatif
Evaluasi ini menggambarkan hasil observasi dan analisis perawat terhadap respon klien segera setelah tindakan.Biasanya digunakan dalam catatan keperawatan.
b.      Evaluasi sumatif
Menggambarkan rekapitulasi dari observasi dan analisis status kesehatan klien dalam satu periode.Evaluasi sumatif menjelaskan perkembangan kondisi dengan menilai apakah hasil yang diharapkan telah dicapai.
Berikut ini tipe-tipe evaluasi yang dilakukan dalam suatu proses keperawatan:
a.       Evalusi tujuan
Fokus pada hasil, tujuan keperawatan (mana tujuan yang tercapai), dan tingkat kepuasan klien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan.
b.      Evaluasi proses
Fokus pada bagaimana proses asuhan keperawatan diberikan. Apakah pengkajian dengan baik, apakah intervensi dilakukan secara konsisten, dan apakah tujuan telah dicapai.
c.       Evaluasi struktur
Fokus pada persiapan lingkungan dimana asuhan keperawatan diberikan (peralatan, lingkungan, pola staf, dan komunikasi).


Evaluasi pada pasien Tuberculosis Paru adalah
a.       Mempertahankan jaan napas pasien
b.      Mengeluarkan secret tanpa bantuan
c.       Menunjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas
d.      Melaporkan tidak adanya/penurunan dispnea
e.       Bebas dari gejala distress pernapasan
f.       Menunjukan berat badan meningkat
g.      Memperbaiki pola hidup
h.      Menyatakan pemahaman proses penyakit
i.        Melakukan perubahan untuk menurunkan resiko pengaktifan ulang TB
Metode-metode penulisan hasil evaluasi sebagai berikut :
a.       SOAP
S=  subjektif: bagian meliputi data subjektif atau informasi yang diperoleh dari klien, seperti klien mengurakan gejala sakit atau menyatakan keinginannya untuk mengetahui tentang pengobatan. Ada tidaknya data subjektif dalam catatan perkembangan sangat bergantung pada keakutan penyakit atau sifat masalah.
O= objektif: data objektif terdiri atas informasi yang dapat diamati atau diukur. Misalnya, hasil pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, observasi, atau hasil pemeriksaan radiologi.
A= assessment: tenaga kesehatan yang menulis catatan SOAP menggunakan data subjekif dan objektif serta merumuskan kesimpulan. Pengkajian merupakan penafsiran tentang kondisi klien dan tingkat perkembangan.
P=  planning: perencanaan bergantung pada pengkajian situasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Rencana dapat meliputi instuksi khusus untuk mengatasi masalah klien, pengumpulan data tambahan tentang masalah klien, pendidikan bagi individu atau keluarga, dan tujuan asuhan. Rencana yang terdapat dalam catatan SOAP dibandingkan dengan rencana yang ada pada catatan terdahulu, kemudian dibuat revisi, memodifikasi, atau meneruskan usulan tindakan yang lalu
b.      Metode SOAPIE (subjektif, objektif, assessment, planning, implementasi, evaluasi) merupakan perluasan metode SOAP dengan implementasi dan evaluasi. Pada hakikatnya, SOAP sering digunakan untuk pengkajian dan perencanaan awal, sedangkan SOAPIE dipakai apabila rencana yang sudah dikembangkan menuju kearah implementasi dan evaluasi (Zaidin, 2010).
c.       SOAPIER
S= subjektif : pernyataan atau keluhan pasien yang relevan.
O= objektif :  data yang di observasi yang relevan dengan diagnosa keperawatan yang dievaluasi lalu bandingkan dengan kriteria hasil yang diharapkan.
A= analisis : kesimpulan berdasarkan data objektif dan atau subjektif.
P= planning : apa yang dilakukan tarhadap masalah.
I= implementation : bagaimana dilakukan.
E= evaluation : respon pasien terhadap tindakan keperawatan.
R= revised: apakah rencana keperawatan akan diubah.
d.      DAR dikembangkan dari sistem pencatatan data focus. Sistem termasuk rawat jalan dimana kontak perawat dengan klien sangat dibatasi waktu. Pencatatan keperawatan yang berorientasi pada proses (proses oriented system) atau FOCUS. Pencatatan focus adalah suatu proses-orientasi dan klien-fokus (Dinarti, 2009).
D(data)=   berisi tentang data subjekif dan objektif yang mendukung dokumentasi focus.
A(action)= merupakan tindakan keperawatan yang segera atau yang akan dilakukan berdasarkan pengkajian/evaluasi keadaan klien.
R(response)= menyediakan keadaan respon klien terhadap tindakan medis atau keperawatan.

6.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah sesuatu yang ditulis atau dicetak, kemudian diandalkan sebagai catatan bukti bagi orang yang berwenang, dan merupakan bagian dari praktik professional. Fungsi dari dokumentasi adalah sebagai berikut :
a.       Penunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan.
b.      Sebagai bukti akuntabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya.
c.       Bukti secara professional, legal, dan dapat dipertanggung jawabkan.
(Deswani, 2009)


Ardiansyah M. 2012. Medical Bedah (untuk mahasiswa), Jogjakarta :DIVA Press
Arief M. 1999. Kapita Selekta KedokteranEd.Ketiga Jilid 1. Jakarta : FKUI
Astuti. 2010. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Trans info media
Corwin. 2009.  Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Deswani. 2011. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta : Salemba Medika.
Dinarti dkk. (2009). Dokumentasi Keperawatan, Jakarta : Trans info media.
DinKes provinsi. 2012 .profil kesehatan provinsi Sul-Teng.
Doengoes. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Nanda. 2012. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Nettina. 2002.  Pedoman praktik keperawatan.Jakarta : EGC
Price. 2012. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Raharjo. 2008. Pedoman Nasional Tuberculosis Anak. Jakarta : EGC
Rusmiati dkk. 2010. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media.
Tambayong. 2000. Patofifiologi Untuk Keperawatan.  Jakarta : EGC
Tabrani Rab.  2010. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Trans Info Media
Zaidin Ali. 2010. Dasar-Dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC
                                                         
 

Sehati Di Jogjakarta (Keraton Jogjakarta)

Jogjakarta kota pelajar dengan ukiran sejarah yang masih ada di setiap sudut kotanya. Berkunjung ke Jogja merupakan sebuah perjalanan yang s...